UA-150421350-1

Senin, 01 September 2014

Mendobrak Tradisi, Menantang Bebas

Pendahuluan
Perempuan, sosok yang kerap melahirkan kontroversi. Perjalanannya dalam ruang publik adalah sebuah tragedi. Ia dicaci tapi dipuja, dinistakan tapi tetap didekati. Perempuan adalah sebuah kenisbian dalam sejarah perjalanan umat manusia,. Keberadaannya penentu keberlangsungan generasi, bagaimana sebuah bangsa pada akhirnya dapat diturunkan dan berkembang
Tapi, mengapa keberadaan wanita sering dipandang sebelah mata? Dinomorduakan, hanya dianggap sebagai pelengkap, bahkan dipinggirkan. Bukankah, ia adalah penyejuk hati, sebagaimana diucapkan oleh Umar bin Khatab. Tempat hati tertambat seperti uraian Hamka. Bahkan sejarahwan Anhar Gonggong menyatakan, perempuan dengan kekuatannya mampu merubah perjalanan cinta dan sejarah.
Ya, tentang perempuan. Keberadaanya dalam ruang publik sering tersisih oleh budaya patriarki, budaya yang seolah sengaja berkembang untuk meminggirkan perempuan. Sejak masa kolonial, kultur tanah air khususnya di Jawa secara terang-terangan telah meminggirkan peran peremuan. Tidak cukup hanya terkungkung oleh kekuasaan kolonial, seorang perempuan Jawa masih harus menerima tradisi “pingitan” yang merebut kebebasan mereka
Lantas apakah segala keterbatasan itu mengantar perempuan untuk digerus zaman? Menjadi sosok yang selalu dilupakan perannya. Tidak. Kenyataan membuktikan bahwa melalui posisinya sebagai sosok yang selalu dibuat tidak berdaya, perempuan justru telah mengukir sejarahnya sendiri.
Mengkritisi Pemerintah ala Kartini
Berbicara tradisi feodal berikut “tetek bengeknya”, tercermin jelas dalam tuturan cerita-cerita Kartini. Bagaimana manusia yang secara kodrati sama di mata Tuhan, justru dibeda-bedakan oleh sesama makhluknya sendiri. Kartini hidup menentang segala tradisi feodalisme yang menyengsarakan bangsanya.  
Kartini tumbuh dalam lingkungan kebangsawanan, lahir tanggal 21 April 1879 dari seorang bupati Jepara R.M.A Sosroningrat dan seorang selir bernama Ngasirah. Beberapa tahun setelah kelahirannya, Kartini menyusul kakak-kakaknya memasuki sekolah. Tahun 1885 pada usia enam tahun, Kartini dimasukan di sekolah Europese Legere School(Sekolah Rendah Belanda). Melalui pendidikan yang singkat itulah, Kartini dapat mengecap pengetahuan Barat dan bergaul dengan anak-anak Belanda secara bebas. Pergaulan yang disadari atau tidak, pada akhirnya akan mengantarkan Kartini mengkritisi tradisi feodal yang mengungkung bangsanya. 
Dalam pertemuan antara dunia Barat dan Dunia Pribumi, bahasa Belanda adalah alat penghubung yang penting. Disampaikan oleh Pramoedya Ananta Toer, Kartini menguasai alat ini sama sempurnanya dengan orang-orang Belanda. Dengan alat ini ia dapat memasuki dunia Barat dengan mudah, melakukan kritik dan penolakan terhadap tingkah orang-orang Belanda dan dapat menyampaikan keinginan-keinginan rakyatnya dalam percaturan politik. Sekilas Kartini nampak lebih mengagungkan bahasa Belanda sebagai alat perjuangan. Sikapnya ini tentu saja dapat menimbulkan salah paham, bahwa dengan ini seakan-akan ia telah menolak Bahasa Melayu.
Kartini tidak pernah menolak Bahasa Melayu, ia berpendapat bahwa Bahasa Belanda lebih efektif sebagai alat perjuangan di masanya. Keengganannya terhadap bahasa Melayu khususnya Melayu babu atau Melayu Pasar. mencerminkan suasana politik saat itu. Bahasa Melayu dipergunakan Belanda terhadap pribumi tidak lain sebagai menifestasi penghinaan, bahwa pribumi berada pada tingkat sangat bawah dibandingkan Belanda. Melayu babu tak ubahnya seperti bahasa Jawa paling kasar yang dipergunakan raja-raja Jawa pada hambanya yang paling hina menurut susunan kasta[1].
Kartini menolak perbudakan, meski perbudakan itu hanya tersirat lewat bahasa. Hal ini menegaskan betapa detailnya ia menafsirkan perbudakan dan penjajahan. Jika perempuan yang hidup dalam kunkungan adat saja begitu jeli, bagaimana mungkin bangsa ini sangat sederhana menerjemahkan kemerdekaan? Bangsa ini seakan sudah terpuaskan dengan kemerdekaan simbolis, merdeka dibawah cengkeraman tangan-tangan asing.  Ingatan kita tentu masih segar dengan pemberitaan PT Freeport yang memperpanjang kontraknya hingga tahun 2041. Dengan perpanjangan kontrak tersebut, berarti perusahaan tambah asal AS itu akan mengeruk bumi kita selama 74 tahun.  Yang menjadi pertanyaan adalah mengapa pemerintah kita begitu mudah takluk? Mengapa pemerintah kita tidak memiliki secuil saja keberanian Kartini untuk menentang kekuasaan asing.  
Kartini menginginkan kesetaraan dalam segala hal, termasuk dalam bahasa sekalipun. Sisi humanitarianisme (kemanusiaan) dan konsep persamaan ini dengan sendirinya telah mendarah daging dalam diri Kartini. Kartini mengungkapkan keinginanya agar dipandang sebagai individu yang sama dengan orang lain. Hal ini tercermin dalam surat Jepara tanggal 25 Mei 1899”…Ya, namaku hanya Kartini. Sebab itu, panggil aku Kartini saja, tanpa gelar, tanpa sebutan.” Meskipun lahir dan dibesarkan dalam lingkungan bangsawan, Kartini tidak mau dianggap jauh diatas orang lain. Ia adalah sosok demokratis yang rela melepas gelar, tanda panggilan kebesaran, dan status kebangsawannnya. Hal ini sungguh luar biasa, mengingat pada masa itu gelar adalah penanda status seseorang dalam hierarki feodalisme.
Kartini rela menanggalan status “raden ajeng” dan lepas dari gelar “raden ayu”. Meninggalkan keduanya sama halnya dengaan melepas jaminan kesejahteraan. Kartini menolak feodalisme, Apalah artinya memiliki darah bangsawan, dihormati, hidup mewah, dan lain sebagainya jika rakyat masih harus menjadi budak bangsa asing.
Kartini adalah figure pemimpin ideal jika saja ia memiliki kesempatan. Konsep dan pemikirannya adalah tempat bercermin bagi tokoh-tokoh politik masa kini. Adalah sebuah ironi jika pemimpin-pemimpin masa kini malah membangkitkan neo-feodalisme. Mereka yang duduk dibangku politik, justru me-raden ayu-kan diri sendiri. Mereka menjadi pemimpin yang gila hormat, berfoya-foya dengan uang rakyat, lantas mengangkat dirinya menduduki kasta tertinggi sehingga harus diagungkan,  
Kartini di Akhir Abad 20
Kartini ditetaapkan sebagai pahlawan nasional dengan SK Presiden RI No 108,2/5/1964. Tanggal lahirnya pun ditetapkan sebagai hari nasional. Setiap tanggal 21 April sekolah-sekolah menjadi lebih semarak dengan murid-murid yang mengenakan busana tradisional Jawa, berbagai lomba keputrian, dan acara-acara yang lain. Namun sayangnya kemeriahan peringatan Hari Kartini tidak selamanya merupakan sebuah ekspresi dan pendalaman atas nilai-nilai perjuangan Kartini. Bahkan memontum tersebut sering diwarnai dengan ha-hal yang tidak selaras dean nilai-nilai perjuangan Kartini seperti konteks kecantikan, fashion show, dan acara-acara lain yang menonjolkan kemewahan.
Melalui surat-suratnya yang terangkum dalam buku Door Duisternis tot Licht, seharusnya kita bisa melakukan penghormata terhadap Kartini dengan lebih bijak. Menelaah pemikiran-pemikirannya tidak hanya untuk kemajuan perempuan, tetapi juga kemajuan bangsa ini secara lebih luas. Jika bangsa Indonesia yang memiliki Kartini sebagai pejuang pembebas masih terbelanggu oleh keterbelakangan. Maka pertanyaannya hanya satu, “sudah sejauh mana bangsa ini telah mengenal Kartini?”









[1] Hlm 119pram

0 komentar:

Posting Komentar

ww
ss