UA-150421350-1

Selasa, 18 September 2012

Starbucks Sebagai Ikon Gaya Hidup Global


Oleh : Waidkha Yuliati
Gaya hidup dapat diartikan sebagai pilihan tindakan atau pemilihan barang-barang yang digunakan untuk dapat menunjukan identitas serta membedakan dirinya dengan orang atau kelompok lain. Konsumsi atau penggunaan barang dan benda-benda dilakukan dalam gaya hidup karena hal tersebut dipandang dapat mempresentasikan suatu citra tertentu. Jika pemakaian tanda dan simbol dimaksudkan untuk membedakan identitas, maka Starbuck juga membawa identitas tersendiri melalui produk-produk yang ditawarkan.
Keidentikan atau citra Starbuck dalam masyarakat, terbentuk melalui berbagai tanda dan simbol. Simbol yang terdapat dalam Starbucks telah membentuk intepretasi maknanya sendiri. Mengunjungi Starbucks atau memakai marchandise yang ditawarkan akan melahirkan citra prestisius dan modern bagi penggunanya. Hal ini tidak dapat dilepaskan dari strategi bisnis Starbuck sehingga mampu menembus pasar internasional, juga pengaruh globalisasi sehingga membentuk Starbuck sebagai ikon gaya hidup modern.
1.      Starbucks
      Starbucks pertama kali berdiri di Place Market, Seattle, Amerika Serikat tanggal 8 Maret 1971. Dalam perkembangannya saat ini, Starbucks memiliki lebih dari 17.000 gerai Starbucks di seluruh dunia. Sebagai bentuk usaha Coffe shop, Starbucks memiliki satu ikon bagi setiap produk yang dihasilkan yakni gambar mermaid atau putri duyung yang berbentuk lingkaran dengan deminasi warna hijau.
      Starbucks dikelola secara profesional dengan memfokuskan bisnis pada food, beverage, dan retil (penjualan biji kopi siap giling). Starbucks memberlakukan standar baku mutu yang ketat dan berkelas internasional. Semua bahan baku diimpor dari tempat yang sama yaitu, Seatlle untuk biji kopi, Australia untuk susu, dan Perancis untuk whippedcream-nya.  [1]
      Starbucks Coffe shop masuk pertama kali di Indonesia, pada tanggal 17 Mei 2002 di Plaza Indonesia, Jakarta. Starbucks di Indonesia dikelola oleh PT Sari Coffe Indonesia (SCI). Dalam perkembangannya, Starbucks kini telah memiliki banyak cabang di kota-kota besar di Indonesia, antara lain Jakarta, Bandung, Surabaya, medan, Yogyakarta, Semarang, Malang, Bali. Starbucks Coffe shop di Indonesia selain memfokuskan pada menu olehan kopi espresso juga menyediakan makanan ringan seperti roti dan cake sebagai menu pelengkap. Berbagai merchandise seperti mug, tumbler,pitcher, termos mini, kaos yang semuanya berlogo Starbucks juga disediakan di tiap gerai-gerai Starbucks.
      Starbuck merupakan salah satu Coffe shop yang mengangkat konsep open kitchen. Pembuatan kopi dilakukan secara terbuka di gerai, sehingga pelanggan dapat secara langsung melihat tiap tahap dalam prosesnya. Starbucks menawarkan konsep interior yang minimalis namun elegan. Fasilitas yang ditawarkan dalam gerai dan proses pelayanan yang profesional dengan sendirinya mengantarkan Starbucks sebagai coffe shop bertaraf internasional yang mempresentasikan gaya hidup modern.
2.      Starbucks Sebagai Ikon Gaya Hidup Modern
      Munculnya Starbucks di Amerika untuk pertama kali, merupakan salah satu faktor penyebab meningkatnya nilai usaha coffe shop tersebut. Sebagaimana diketahui Amerika yang dianggap sebagai pusat modernisasi, menjadikan segala sesuatu yang berasal dari negara tersebut dipandang memiliki nilai lebih. Kesuksesan gerai Starbucks di Amerika, diikuti usaha perluasan pasar dengan mendirikan cabang Starbucks di negara lain. Mendunianya gerai kopi di negara-negara diluar Amerika, mengukuhkan Starbucks menjadi coffe shop bertaraf internasional.
Menu dan kualitas rasa yang diberikan Starbucks menjadi daya tarik tersendiri  bagi pengunjung coffe shop ini. Inovasi dalam pengolahan kopi dan variasi menu serta kualitas rasa yang ditawarkan, membedakan Starbucks dengan menu kopi di coffe shop lokal atau warung-warung kopi (Warkop). Faktor tersebut mengindikasikan Starbucks sebagai ikon yang mewakili citra modern. Sebagai ikon yang mewakili citra modern, secara tidak langsung Starbucks juga dianggap menjadi bagian dari gaya hidup modern.
Selain kualitas menu, fasilitas dan suasana gerai menjadi pertimbangan pengunjung gerai Starbucks. Fasilitas yang ditawarkan Starbucks seperti open kitcen area hotspot, Air Conditioner (AC), free smoking area belum banyak ditawarkan terutama oleh coffe shop-coffe shop berskala kecil. Hal tersebut dengan sendirinya mencitrakan gerai Starbucks sebagai tempat yang nyaman dan elegan.
      Fasilitas, menu, bahkan harga mencitrakan Sratbucks sebagai coffe shop yang identik dengan kelompok kelas menengah atas, prestisius, brand internasional dan elegan. Hal ini tidak dapat dipungkiri menjadi persepsi tiap konsumen dalam memandang Starbucks. Konsumen mengunjungi Starbucks menjadi suatu upaya dalam pencitraan diri. Citra yang berusaha dibangun tentu saja citra yang telah melekat dalam Starbucks. Citra sebagai bagian dari kelompok atau status yang modern, elegan, dan prestisius.
3.      Starbucks dan Proses Pergeseran Nilai
Gaya Hidup Mewah
Gaya hidup dapat dikatakan mewah jika memenuhi beberapa kriteria antara lain, membelanjakan banyak uang, menggunakan barang-barang yang ber-merk dengan harga mahal. Gaya hidup ini juga ditandai dengan indikasi modernitas dimana teknologi dan informasi menjadi hal utama. Orang-orang yang bergaya hidup modern banyak menggunakan piranti teknologi yang cangging seperti notebook, smartphone, dan lain sebagainya.
Gaya hidup juga merupakan bagian dari budaya konsumen, dimana semua benda dinilai secara materialistik. Dalam perkembangannya konsumsi terhadap barang kemudian lebih banyak dikaitkan dengan nilai simboliknya.  Hal ini tidak dapat dipisahkan dari pengaruh globalisasi, konsumsi terhadap barang tidak hanya bermuara pada komoditas namun juga untuk  mempertimbangakan image.

Keberadaan Starbuck tidak dapat dipungkiri menjadi wahana pembentukan image seseorang dimasyarakat. Tidak banyak pengunjung yang mementingkan asas kebermanfaatan ketika mengunjungi Starbucks. Pengunjung lebih mementingkan nilai simbolik yang dicitrakan melalui produk-produk Sratbucks. Nilai simbolik yang memiliki kesan eksklusif bagi penggunanya.
Gaya Hidup Individual
      Dunia modern selain ditunjukan dengan pesatnya perkembangan teknologi informasi juga ditandai dengan melemahnya solidaritas organik dan menonjolnya solidaritas mekanis. Dalam hal ini orang akan berinteraksi dan menjalin relasi demi kepentingan pribadi, dan mengacuhkan hal-hal yang bersifat umum. Sikap oportunis dan pragmatis sedikit demi sedikit akan menyertai tiap tindakan dalam pergaulan manusia.
      Starbucks hadir dengan gerai-gerai yang mendukung kecenderungan individualis. Kesan elegan yang dihadirkan dalam gerai, secara tidak langsung menuntut etika tersendiri dalam menikmati makanan. Kata-kata dan perilaku tersebut kemudian ikut menjadi simbol yang membedakan antar kelompok bahkan antar kelas.
      Pengunjung Starbucks tidak banyak yang berbicara dengan suara keras atau tertawa terbahak-bahak. Hal tersebut tentu berbeda dengan pengunjung coffe shop berskala kecil atau angkringan yang identik dengan kesederhanaan. Menikmati kopi diangkringan, pengunjung dapat bertingkah laku sesuai dengan keinginan mereka tanpa memperhatikan image. Bahkan seseorang dapat dengan santai mengobrol dengan orang baru yang baru dikenalnya  Hal ini tentu saja tidak dapat disamakan dengan pengunjung Starbucks, pengunjung Starbucks datang degan kepentingan masing-masing dan tidak saling berinteraksi antar individu maupun kelompok. Kondisi gerai yang menjaga privasi pengunjung mendukung terciptanya kesan individalis dalam gerai.


4.      Starbucks dan Pengaruh yang Ditimbulkan
Jika berkunjung ke Starbucks pengunjung akan dilayani dengan serba praktis. Datang, memilih menu kopi yang terpampang dalam gerai, bayar,dan pengunjung akan segera memperoleh kopi yang diinginkan. Starbucks tidak hanya menawarkan gerai yang nyaman untuk menikmati kopi, konsep take away (bisa dibawa pulang) juga ditawarkan dalam coffe shop. Nilai-nilai budaya praktis dan instant secara tidak langsung diadopsi pengunjung ketika mengunjungi Starbucks. Dengan Starbucks, lupakan segala kerepotan menyeduh kopi, memanaskan air, dan lain sebagainya. Fenomena semacam ini merupakan salah satu ciri dari McDonaldization of Society.  
Persoalan lain yang muncul ialah terbentuknya masyarakat konsumer, masyarakat yang semakin konsumtif. Konsumsi yang ditekankan disini bukanlah tentang membeli barang atau jasa, tetapi kecenderungan untuk mengkonsumsi kode, nilai, atau simbol. Pada dasarnya masyarakat mengonsumsi sesuatu (membeli produk atau jasa) pada hakikatnya bukan kepada produk atau jasa itu sendiri. Namun  lebih kepada nilai atau simbol apa yang kita konsumsi dari produk atau jasa tersebut.
      Menghadapi fenomena semacam ini, reaksi yang seharusnya timbul adalah lebih kepada individu masing-masing. Sebab melayangkan himbauan untuk tidak mengunjungi Starbucks merupakan hal yang nyaris mustahil utuk dilakukan. Yang memungkinkan untuk ditekan adalah budaya konsumerisme yang ada, terutama konsumtif terhadap nilai atau simbol yang ada dalam suatu produk.
      Pengunjung yang mengunjungi coffe shop macam Starbucks ingin menunjukan bahwa meminum kopi di coffe shop lebih berbudaya dibandingkan meminum kopi di rumah atau di Warung kopi (Warkop). Menyadarkan bagaimana untuk tidak terpengaruh oleh hal-hal yang demikian ini yang harus dilakukan. Menanamkan keyakinan bahwa nilai-nilai kearifan dan berbudaya tidak harus dilakukan dengan mengikuti gaya hidup mewah harus tekankan dalam kehidupan masyarakat. Lagipula harga yang dibandrol untuk produk-produk Starbucks berkali lipat lebih mahal dibandingkan di coffe shop-coffe shop lain. Seharusnya hal tersebut juga menjadi bahan pertimbangan.
Sumber:
 Agus W. Soehadi (2006). Effective Branding:Konsep dan Aplikasi Pengembangan Merek  yang sehat dan kuat. Bandung: Quantum Bisnis&Manajemen.




















[1] Agus W. Soehadi (2006), Effective Branding:Konsep dan Aplikasi Pengembangan Merek  yang sehat dan kuat. Bandung: Quantum Bisnis&Manajemen,  hlm 44.

0 komentar:

Posting Komentar

ww
ss