UA-150421350-1

Minggu, 30 Desember 2012

Biografi Martin Luther : Peranannya Dalam Reformasi Gereja

Oleh: Waidkha Yuliati  

Jerman melahirkan reformer religius yang mampu merubah dunia. Sebutan tersebut agaknya pantas disandang oleh tokoh reformasi gereja, Martin Luther. Martin Luther adalah seorang anak petani dari pasangan suami-istri Hans dan Margareth Luther. Dilahirkan di kota tambang Eisleben, Saxon, Jerman pada tahun 1483. Kehidupannya banyak berubah setelah Martin Luther memasuki biara, dan mulai berkecimpung dalam dunia religi.
Perjalanan hidup Martin Luther selanjutnya tidak dapat dipisahkan dari orang tuanya, Hans Luther. Segalanya dimulai ketika Karir Hans Luther mulai menanjak dari petani menjadi wiraswastawan. Orang semacam itu hampir selalu memiliki ambisi yang lebih besar lagi bagi keturunannya daripada bagi dirinya sendiri. Hans Luther mendapat profesi ahli hukum bagi puteranya Martin. Atas dasar desakan ayahnya, Martin Luther memasuki studi ilmu hukum, tetapi setelah beberapa bulan ia berhenti dan mengasingkan diri disebuah biara. Ayahnya sangat kecewa dan marah, namun keluhannya sia-sia belaka. Rupanya Martin Luther lebih tertarik pada dunia religi dibandingkan ilmu hukum.
Luther masuk biara Ordo Santo Agustinus di Efurt pada tahun 1505, ketika berumur 22 tahun. Serikat yang dimasukinya merupakan salah satu kelompok biarawan yang paling rajin. Ia melaksanakan panggilannya dengan keinginan dan semangat, hal tersebut tercermin semua tindakan-tindakannya. Martin Luther menjalankan berbagai bentuk laku tapa dengan berpuasa secara berlebihan dan berdoa selama berjam-jam sampai larut malam.
Kecerdesannya membuat pimpinan biara mengirimkan Martin Luther ke Universitas Wittenberg untuk belajar disana. Pada tahun 1508, atas ajakan gurunya, Johannes von Staupitz, Luther menjadi pengajar bidang Filsafat Moral di Universitas Wittenberg yang baru didirikan. Luther mengajar sambil melanjutkan studi teologinya. Setahun kemudian, Luther menamatkan sarjana teologinya. Pada tahun 1512, Luther berhasil meraih gelar doktor dalam bidang teologi dari Universitas yang sama Banyak pengalaman yang diperoleh Martin Luther diuniversitas tersebut.
Martin Luther mulai melakukan khotbah-khotbahnya, menyampaikan buah pikiran kepada orang lain. Ia ingin mengembalikan kemurnian asli Agama Nasrani seperti dalam zaman rasul-rasul, jauh sebelum perkembangan kepausan itu. Bagi Martin Luther, hakekat agama terletak pada pengalaman batin terutama mistik dan tidak dapat diedarkan kepada orang terletak pada pengalaman batin terutama mistik dan tidak diedarkan kepada orang lain.

Martin Luther dalam Reformasi Gereja
Tahun 1511 Martin Luther pergi ke Roma. Saat itu mulailah kekecewaan Luther terhadap pemuka agama Katholik.. ia sangat terkejut melihat kemewahan dan gaya hidup para rohaniawan tinggi yang berlebih-lebihan Gereja memungut pajak tanah yang sangat memberatkan terhadap kehidupan rakyat Jerman. Penarikan pajak yang sangat memberatkan terutama dirasakan oleh para petani. Korupsi marak dilakukan oleh oknum-oknum dan pengadilan paus. Selain itu dari gereja terdapat penjualan hadiah-hadiah atau pangkat dalam sistem kegerejaan. Konsep pemikiran Martin Luther ingin mengurangi kekuasaan Gereja yang berlebihan itu.
Studi Alkitab mempengaruhi pemikiran Martin Luther. Dari studi tersebut, Luther mengembangkan doktrin Pembenaran Iman (Rechtfertigung durch den Glauben-Justification of Faith). Doktrin ini menjadikan kependetaan dari gereja Katholik Roma tidak berguna lagi sebagai penghubung antara seorang individu dan Tuhan. Sebagai tokoh Reformasi Jerman, Martin Luther mulai melangkah lebih jauh lagi. Ia mempertanyakan konsep kebenaran dan penyesalan terhadap pemuka-pemuka Gereja.
Risalah kuliah yang ditulis oleh Martin Luther setelah tahun 1515, mulai menyoroti kesalahan ajaran seperti konsep orang kudus dan Paus sebagai perantara. Namun kritik Luther ini hanya berkutat sejauh dinding kampus. Protes Martin Luther mencapai klimaksnya pada tahun 1517,saat gereja menjual indulgensi atau surat pengampunan dosa.
Luther mengkritik masalah jual-beli indulgensi dan penjualan Ablassbriefe-Indulgences (Surat pengampunan hukuman temporal dari dosa) yang dilakukan seorang Dominikan, Yohanes Tetzel. Penjualan indulgensi diperuntukkan untuk membiayai pembangunan basilica baru diatas makam Santo Petrus di Vatikan. Penjualan surat ini mengatasnamakan amanat Paus Leo X (1475-1521, yang berkuasa sejak 1513. Yohanes Tetzel adalah seorang rahib Dominikan. Ia tidak hanya bekerja bagi paus, tetapi juga bagi keluarga kepangeranan Hohenzollen, yang salah seorang keturunannnya menjadi uskup Halberstadt dan Uskup Agung Magdeburg serta Mainz.
Protes Martin Luther sebenarnya telah dimulai tahun 1514, sejak dipahaminya doktrin anugerah (ajaran Agustinus). Doktrin "Anugerah" yang pernah dituliskan Agustinus dalam buku "Pengakuan-pengakuan" (Confessions) adalah salah satu ajaran penting yang telah begitu lama dilupakan gereja. Sederhananya, doktrin ini meyakini bahwa tidak ada satupun manusia berdosa mampu menyelamatkan dirinya. Hanya Allah yang dapat mengampuni manusia dalam kedaulatan-Nya. Pengampunan inilah yang disebut anugerah, suatu rahmat yang sebenarnya tidak layak diberikan kepada kita. Bahkan iman pun adalah pemberian Allah, bukan usaha dan keputusan manusia. Doktrin takdir, nasib jiwa manusia setelah mati keseluruhannya bebas dari campur tangan para pendeta
Penjualan Indulgensi menjanjikan kepada orang-orang yang memberi sumbangan uang, dan mengakui dosanya, akan mendapat pengampunan dari hukuman di dunia ini untuk dosa . Luther menolak berlakunya indulgensi sebagai penghasilan utama gereja.. Para pengkhotbah menggunakan ajaran gereja dengan seenaknya,
…”apakah yang mereka serukan suatu janji bahwa pembelian indulgensi akan menjamin masuknya orang ke surga dan ini tidak hanya berlaku bagi si pembeli tetapi juga bagi sanak keluarganya yang telah meninggal tetapi masih menderita didalam api penyucian.”
Ungkapan kemarahan Marthin Luther dituliskannya sebanyak 95 tesis pada selembar poster yang kemudian dipakukan di pintu utara Gereja Islam Wittenberg (31 Oktober 1517). Selain itu ditempel di Wittenberg, Luther juga mencetak dan menyebarluaskannya kemana-mana.
Orang yang sungguh bertobat, kata Marthin Luther tidak akan merengek-rengek meminta hapusnya hukuman dosanya, tetapi bahkan akan menyambutnya dengan senang hati seperti Yesus Kristus dahulu, maka penyajina indulgensi yang menyatakan pembebasan dari api penyucian tanpa pandang bulu itu telah menipu orang banyak. Lebih lanjut lagi, Martin Luther tidak mengakui supremasi Paus. Ia menulis beberapa phamlet, antara lain An Adres to the Christian Nobility of the German Nation.
Selain bereaksi terhadap doktrin indulgensi, Luther dengan tajam menyangkal kebenaran Gereja Katolik yang selama beberapa abad lamanya membagi orang Kristen menjadi golongan imam dan awam, derajat imam lebih tinggi dari awam. Luther menyatakan bahwa semua orang beriman adalah imam, demikian pula ia mengkhotbahkan bahwa semua pekerjaan itu suci, mulai dari pandai besi di peleburan sampai tukang tembikar di meja putarnya.
Konsep tentang kerja keras sebenarnya telah dijelaskan dalam isi Injil. Kristus adalah seorang tukang kayu, Maria mengurus rumah tangga, bahkan para gembala kembali ke domba-dombanya sesudah mereka melihat kanak-kanak Kristus. “Itu pasti keliru”, demikian ejek Luther. “ Kita harus memperbaiki ayat tersebut hingga berbunyi : Mereka pergi dan mencukur kepala, berpuasa, berdoa Rosario, dan mengenakan topi rahib”. Sebaliknya kita baca, “ para gembala itu kembali”. Kemana? “ Kepada domba-domba mereka. Domba-domba itu pasti akan terlantar kalau para gembala tidak kembali”. Makna kerja keras bagi semua umat, menyiratkan kita pada pandangan dunia modern, bahwa bekerja merupakan suatu hal yang mutlak dilakukan manusia guna mencukupi kebutuhan hidupnya. Pekerjaan yang barangkali dipandang remeh, sederhana, dan pekerjaan sebagai buruh atau penggembala misalnya, menunjukan bahwa posisi manusia mempunyai kesetaraan di hadapan Allah.
Atas berbagai tulisan Marthin Luther yang menyerang otoritas Gereja dan juga paus, diantaranya risalah yang berjudul “ Tahaban Babil Gereja” yang tulis pada tanggal 20 Agustus 1520. Segera, pimpinan Gereja itu menginstruksikan para pimpinan Gereja Wittenberg, agar semua karyanya dibakar. Dalam waktu 60 hari, Marthin Luther haruslah menghentikan kegiatannya, kalau tidak ia akan dikucilkan.
Gagasan Marthin Luther telah mengobarkan semangat bangsa sehingga perintah paus itu disambut dengan rintangan disepanjang jalan ke Wittenberg. Para mahasiswa membuat huru-hara. Dibeberapa kota para pejabat berhasil membakar buku-buku Luther, walaupun menghadapi kekuatan orang-orang Jerman yang serius. Pada tanggal 10 Desember 1520, Luther dan para mahasiswa di Wittenberg menjawab dengan tindakan serupa. Dalam kobaran api unggunnya yang besar, didepan gerbang kota, Luther membakar Kitab Hukum Gereja, dan dokumen yang dikeramatkan.
Upaya paus untuk meberikan sangsi terhadap Luther dan pendukungnya yakni pengucilan, ditempuh dengan cara mempengaruhi Karel V yang pada Bulan Juni 1520 ia menggantikan Kaisar Maximilian. Namun hal ini belum memuaskan pihak otoritas gereja yang tetap merasa perlu membungkam Luther dan pendukungnya Segera melalui persidangan majelis para pangeran, bulan Maret 1521, Luther dipanggil menghadap dewan gereja, lazim disebut Diet, memanggil Luther untuk menghadap. Dalam persidangan, paus sangat mengharap agar Luther dijatuhi hukuman.
Semula, Luther akan menjatuhi hukuman pada Luther sesuai kehendak paus disamping itu Karel V merupakan seorang putera Gereja yang setia. Namun, ia mendapat nasehat bahwa tidak bijaksanalah menentang kemauan rakyat mengingat undang-undang dasar Jerman menyatakan, bahwa tidak seorang pun boleh dijatuhi hukuman tanpa proses pengadilan. Awalnya, Luther acuh tak acuh dengan pemanggilannya. Namun atas desakan bangsawan Frederick yang Bijaksana, Luther pun berangkat. Frederick ingin agar Luther memiliki kesempatan sekali lagi untuk membela pemikirannya secara legal atas kesalahan gereja. Apalagi, otoritas gereja menjamin keamanan Luther selama perjalanan dan persidangan.
Teman-teman Luther mengkuatirkan kepergian Luther ini. Mereka ingat bahwa sebelumnya ada seorang Reformator bernama John Huss (1374-1415) yang pernah dipanggil gereja untuk bertemu. Saat itu, Huss pun diberikan jaminan keselamatan dirinya oleh pihak gereja. Setelah menggumuli dengan seksama dan didukung bangsawan Frederick, Luther pun pergi ke Worm. Luther dihadapkan pada Reichstag Worms (1521) untuk menarik kembali pendiriannya. Reichstag mengeluarkan Edik Worms dan Luther dikenakan ban Negara.
Lewat proses pengadilan, Luther memang didakwa dari berbagai tulisannya yang anggap sangat merugikan Gereja Roma. Demi membela Gereja Roma, akhirnya Luther dijatuhi hukuman dengan tuduhan menjatuhkan martabat Gereja. Martin Luther dinyatakan “murtad” oleh dewan persidangan tahun 1521. Semua tulisan-tulisanya dinyatakan terlarang dan tidak dapat dipertanggungjawabkan.
Di luar sidang, para teolog pun coba membujuk Luther untuk menganulir pandangannya. Luther tetap pada posisinya agar segala kesalahannya harus merujuk dari Alkitab sendiri. Jika tidak ada satu pun yang bisa membuktikan kesalahan Luther dari Alkitab maka Luther sama sekali tidak mau berkompromi. Pada tanggal 25 April, Luther diizinkan kembali ke Wittenberg. Sejak saat itu, otoritas gereja menganggap Luther dan pendukungnya sebagai musuh gereja.
Sementara itu, sidang Worm yang masih berlangsung setelah Luther pulang kampung, memutuskan Luther sebagai bidat dan bukan warga gereja. Keputusan ini tertuang dalam Edict of Worms dan resmi ditandatangani oleh Charles V pada tanggal 25 Mei 1521. Dalam perjalanan pulangnya, Luther "diculik" oleh pegawai bangsawan Frederick. "Penculikan" ini adalah inisiatif Frederick untuk mengamankan Luther dari risiko yang mungkin muncul setelah perlawanan Luther pada sidang di Worm. Pada masa itu, bila otoritas gereja telah menetapkan seseorang menjadi bidat atau sesat maka jemaat yang fanatik merasa sah untuk membunuh yang bersangkutan. Luther diungsikan Frederick ke menara Wartburg yang terletak di pinggiran kota Eisenach.
Selama Luther bersembunyi di menara Wartburg, dia meminta kesediaan Melanchthon untuk memimpin jemaat Wittenberg yang ditinggalkannya. Luther adalah seorang penulis tenar dan produktif. Tulisannya memiliki pengaruh luas terhadap masyarakat. Didalam pengasingannya, Luther berhasil menerjemahkan Kitab Perjanjian Baru dalam bahasa Jerman. Kitab Perjanjian Baru tersebut merupakan suatu karya yang maha besar. Terjemahan Kitab Injil tersebut memudahkan setiap orang yang tidak buta huruf untuk mempelajari Injil tanpa perantara gereja atau pendeta. Kekuatan pribadinya, mempunyai pengaruh besar terhadap gerakan Reformasi di Jerman.
Martin Luther kembali ke Wittenburg pada tahun 1522. Dalam rangkaian khotbah pertamanya sejak kembali, Luther berpesan kepada jemaatnya untuk tetap mengutamakan toleransi, kesabaran dan kasih, bahkan kepada siapapun yang berseberangan. Luther coba mengkoreksi radikalisme yang sempat tertanam dalam benak sebagian jemaatnya. Ia mengambil contoh dirinya sendiri sebagai orang yang berjuang sekuatnya untuk memperbaharui gereja, namun tetap tidak menggunakan kekerasan sedikitpun.
Kalau Luther menginginkan, sebenarnya dia bisa memancing pertumpahan darah antara pendukung dan penolaknya, tapi justru dia selalu berusaha agar hal ini tidak terjadi. Luther mengingatkan jemaatnya untuk tidak menodai perjuangan suci ini dengan kebencian dan kemarahan kepada siapapun, termasuk otoritas gereja Roma.
Luther menyibukan diri dengan organisasi gerejanya dan menulis. Pada tahun 1523, Luther mengedarkan tulisannya yang berjudul "Ibadah Reformasi Bersama" (Formula Missae et Communionis). Dalam tulisannya, Luther menyatakan bahwa tujuan reformasi ibadah bukan untuk membuang seluruh ibadah pra Reformasi. Menurutnya, ada bagian-bagian ibadah pra Reformasi yang baik dan tidak bertentangan dengan Alkitab. Yang perlu dibuang adalah bagian-bagian yang nyata bertentangan dengan Alkitab. Pada tahun yang sama, Luther menerbitkan "Tentang Penyembahan Ilahi". Luther menekankan kembali agar setiap orang percaya membaca Alkitab, berdoa dan menyembah Allah dalam devosi pribadi tiap hari. Luther menikahi seorang eks biarawati, Katherine von Bora. Dalam perjalanannya,
Luther mulai banyak kehilangan popularitas dan penganut. Hal tersebut berkaitan erat dengan peristiwa Perang Petani (1524-1525. Luther turut menyalahkan ketidakadilan dan kejahatan para bangsawan sebagai penyebab utama pemberontakan para petani, namun Luther pun tidak menyetujui jika para petani memberontak dengan cara mogok kerja dan turun ke jalan. Perselisihan antara Lutheran dan Katholik diselesaikan dengan Perdamaian Religius Augsburg (1555) dengan doktrin cuius region eius religio:
“… In 1530, Philip Melancthon, a learned and thoughtful scholar, tried to bring the diet which met a Aughsburg together in support of a moderate and careful statement of the new teachings. The diet refused. But Melancthon “Confession of Aughsburg” became the recognized creed of the Lutheran Church.
Aktivasi Luther diteruskan oleh para pengikutnya, muncul paham pemikiran Luther yang membuahkan berdirinya Gereja Luther yang telah menjadi Gereja Nasional yang mantap disebagian besar Jerman Utara dan Skandinavia. Gereja tersebut selalu mengorganisasi keberadaan nasib ditengah-tengah masa kebaktian dan tetap mempertahankan upacara keagamaan. Paham Lutheranisme mempercayai dan menyadari inti ajaran tentang makna roti dan anggur bersama dengan tubuh dan darah Kristus, keduanya wajar dan gaib.

Selayang Pandang
Martin Luther tentu saja bukanlah pemikir protestan pertama. Seabad sebelumnya, Luther sudah didahului oleh Jan Hus dari Bohemia. Pada abad ke-12 seorang pemikir Protestan lahir di Inggris, John Wycliffe, bahkan diabad ke-12 seorang Perancis bernama Peter Waldo dapat dianggap sebagai Protestan pertama. Namun pengaruh para pendahulu Luther itu dalam gerakannya hanya mencakup lingkup lokal.
Luther bukannya terbebas dari kesalahan-kesalahan. Meskipun dia seorang pemberontak terhadap kekuasaan keagaamaan yang terlalu dominan, Luther bisa bersikap tanpa toleransi terhadap mereka yang memiliki pendapat berbeda dengannya dalam bidang keagamaan. Martin Luther seorang yang sangat anti-Yahudi. Tulisan-tulisannya mengenai Bangsa Yahudi sangat kejam. 

Daftar Pustaka
Alister E McGrant. 1993. Reformation Thought: An Introduction. USA: Blackweel Publishers, Jan Romein. 1956. Aera van Europa. Diterjemahkan oleh Noer Toegiman, Aera Eropa. Jakarta: Ganaco.
Hayes, Carlton, J.H & marshall Whithed Baldwin. 1956. History Of Europe. New York: The Macmilllan Company.
Jan Romein. 1956. Aera van Europa. Diterjemahkan oleh Noer Toegiman, Aera Eropa. Jakarta: Ganaco
Marwati Djoened Poesponegoro. 1988. Tokoh Dan Peristiwa Dalam Sejarah Eropa Awal Masehi-1815. Jakarta: UI Press.
Michael A.Hart. 1982. 100 the Ranking Of The Most Influential Persons In History, a.b H. Mahbub Djunaidi Tokoh Paling Berpengaruh dalam Sejarah. Jakarta: PT. Dunia Pustaka Jaya.
Mohamad Hadi Sundoro. 2007. Dari Renaisans Sampai Imperialisme Modern. Jember: Jember University Press.

1 komentar:

Unknown mengatakan...

MAU BERPENGHASILAN LEWAT FB SAJA?
buat teman2 yg sedang btuh penghasilan sndiri..minat kerja sampingan ini?cukup online fb,twitter,dll bisa berpenghasilan..
membantu sebuah perusahaan menyebar survei saja anda dibayar dengan uang yg lumayan
daftar di sini
http://tiny.cc/2txtnx
jadikan fb sebagai media berpenghasilan bkn sekedar hiburan

Posting Komentar

ww
ss